Direktur Utama SIG, Hendi Prio Santoso (kedua dari kanan), Direktur Pemasaran & Supply Chain SIG, Adi Munandir (paling kanan), Direktur Strategi Bisnis & Pengembangan Usaha SIG, Fadjar Judisiawan (kedua dari kiri), Direktur Keuangan SIG, Doddy Sulasmono (paling kiri) usai memperkenalkan logo baru di Jakarta beberapa waktu lalu. DUTA/istimewa

JAKARTA | duta.co – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mencatatkan volume penjualan sepanjang 2019 sebesar 42,6 juta ton baik pasar lokal maupun ekspor. Penjualan itu dari seluruh perusahaan di bawah SIG termasuk dari Thang Long Cement (TLCC) Vietnam.

Untuk penjualan domestik SIG di  2019, meningkat 32,5% menjadi 36,3 juta ton meskipun permintaan di pasar semen domestik hanya tumbuh 0,3%. Sementara penjualan regional yaitu penjualan dari Vietnam dan ekspor meningkat 9,1% dari tahun sebelumnya menjadi 6,3 juta ton.

“Volume penjualan itu naik  28,5% dibanding periode yang sama  2018 sebesar 33,2 ton,” ujar Direktur Utama SIG, Hendi Prio Santoso dalam rilisnya, Selasa (17/3/2020).

Selain penjualan, pada 2019 SIG mencatatkan  laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2.392 triliun. Pendapatan tercatat Rp 40,368 triliun, naik 31,5% dibanding 2018 sebesar Rp30,688 triliun.

Beban Pokok Pendapatan tercatat Rp27,654 triliun, naik 29,5% dibanding periode yang sama 2018 sebesar Rp21,357 triliun. Untuk EBITDA tercatat Rp8,7 triliun, naik 32,3% dibanding 2018 sebesar Rp6,6  triliun.

Laba per saham dasar tercatat Rp403,- turun 22,3% dibanding periode yang sama 2018  sebesar Rp519,-.

Perseroan mampu menjaga kinerja dengan mencatatkan EBITDA margin sebesar 21,5%, atau meningkat 0,1% dari tahun sebelumnya. “Pertumbuhan  EBITDA Margin ini berasal dari berbagai inisiatif strategis yang dilakukan Perseroan, mulai dari integrasi Solusi Bangun Indonesia (SBI), optimalisasi fungsi strategis di bidang marketing, supply chain, procurement, dan berbagai langkah cost transformation Perseroan,” jelas Hendi Prio Santoso.

Pada  2019, Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 23,2% dibandingkan periode yang sama di  2018. Penurunan laba bersih ini disebabkan karena peningkatan beban keuangan dalam proses akuisisi SBI.

Perseroan telah melakukan berbagai langkah untuk efisiensi beban keuangan, diantaranya dengan melakukan pembayaran atau pelunasan pinjaman sebesar Rp 1,4 triliun selama  2019.

Selain itu, Perseroan juga telah melakukan refinancing atas pinjamannya di  2019 sehingga memperoleh tingkat bunga yang lebih kompetitif.  Langkah Perseroan ini diharapkan dapat menurunkan beban keuangan Perseroan. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry