Suasana workshop.

JOMBANG | duta.co – Langkah penguatan ketahanan pangan nasional mulai bergerak di tingkat desa. Program DEFA (Development of Efficient Food Agriculture) kolaborasi Yayasan STAPA Center dan Sampoerna untuk Indonesia resmi menyasar 20 desa di Kabupaten Jombang. Mayoritas desa tersebut berada di wilayah Ring 1 industri, meliputi kawasan MPS Ploso, Perak, dan Ngoro.

Program ini diperkenalkan dalam Workshop Identifikasi Potensi Lokal yang digelar Sabtu (28/2/2026). Kegiatan diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jombang.

Kabid Pemberdayaan Dinkop-UMKM Jombang, Ana Arisanti, S.E., M.Si., menegaskan bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) harus menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat desa. Menurutnya, potensi pertanian dan usaha pangan tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan kelembagaan ekonomi yang kuat dan profesional.

Sementara itu, Sekdin PMD Jombang, Rika Paur Fibriamayusi, S.STP., Mkp., menekankan pentingnya peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung ketahanan pangan. BUMDes diharapkan mampu menjadi agregator produksi sekaligus memperkuat distribusi hasil pertanian desa.

Fasilitator lapangan, Abd. Wahab, S.E., saat memberikan pemaparan.

Sedangkan. Fasilitator Lapangan Setapa Sampoerna, Abd. Wahab, SE, menjelaskan bahwa sebelum menetapkan 20 desa sasaran, tim melakukan asesmen terhadap sekitar 25 hingga 30 desa. Proses tersebut dilakukan melalui kuesioner, kunjungan lapangan, serta pengamatan mendalam terhadap potensi dan kebutuhan desa.

“Ini tahapan awal kemarin kita lakukan, akan ada lagi beberapa kegiatan hingga agustus, yang terdekat adalah sosialisasi program sebagai bentuk kick off program yang waktunya menunggu jawaban dari Abah bupati untuk membuka acara sosialisasi program pendampingan desa,” kata Wahab kepada duta.co, Selasa malam (3/3).

Program DEFA lanjutnya, dirancang untuk mendorong efisiensi pertanian pangan, memperkuat sinergi BUMDes dan KDKMP, serta membangun sistem ekonomi desa yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda ketahanan pangan nasional, program ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi desa, khususnya di wilayah Ring 1 industri.

“Namun pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh workshop dan pemaparan konsep.” bebernya.

Konsistensi pendampingan, keterbukaan informasi, serta dampak riil terhadap pendapatan masyarakat desa akan menjadi ukuran sesungguhnya. Di situlah publik akan menilai apakah DEFA benar-benar menjadi penguat ketahanan pangan desa, atau sekadar program pendamping yang berhenti di atas kertas.

“Nanti mampu bersinergi dengan koperasi merah putih untuk kemajuan desa,” pungkasnya. (din)