“Meyakini perkara ghaib juga melahirkan sikap kehambaan yang sempurna dan kepekaan sosial”

 

Oleh: Mukhlas Syarkun, Direktur Pusat Kajian Rahmatan Lilalamin Center

FIRMAN Allah SWT; Allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn [Surat Al-Baqarah 3]

Artinya : (yaitu) Mereka yang beriman terhadap perkara gahib,  mendirikan sholat dan membelanjakan sebagian rizkinya yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS; Al-Baqaroh: 3)

Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, bahwa Alquran  tidak ada keraguan dan selain itu menjadi petunjuk bagi mereka  bertakwa, bersambung ayat ke 3 surah al-Baqoroh memberi kriteria sosok mereka  bertakwa, yang bermula meyakini perkara ghaib.

Meyakini perkara ghaib, menjadi sangat penting dan bahkan menjadi ciri utama orang bertaqwa,  sesungguhnya meyakini perkara ghaib akan dapat membangkitkan sikap kehambaan, merasa dirinya dhaif (lemah), karena merasa tidak mampu menjangkau fenomena ciptaan Sang Maha Pencipta (khusunya perkara ghaib). Selanjutnya dapat mengasah kecerdasan sepritual, untuk selalu ingin lebih dekat (taqarrub) dengan Dzat yang Maha Mencipta (Allah SWT).

Aktualisasi dari sikap taqarrub  yang paling utama sebagaimana dalam ayat ini adalah mendirikan sholat, karena sholat merupakan mi’rajnya orang beriman, sholat  sebagai refleksi hablum minallah, sholat menjadi tiang agama,  didalam sholat juga manusia dapat meraih keutamaan yaitu dijauhkan dari keji dan  kemunkaran,  sholat dapat membangkitkan sikap kehambaan, dengan sholat manusia dapat menjalin komunikasi ruhaniah intens dengan Tuhannya,  melalui sholat juga manusia menemukan jati dirinya

Kesemuanya itu dapat membangkitkan kepekaan sosial,  sebagaimana  dijelaskan akhir ayat (wamim-ma razaqna hum yunfiqun) mereka orang-orang yang dekat dengan Allah, akan membelanjakan sebagian hartanya sebagai refleksi dari rasa tanggungjawab dan  kepekaan sosial.

Dengan demikian ayat di atas menginspirasikan betapa pentingnya menanamkan keyakinan terhadap perkara ghaib, di samping sebagai tanda orang bertaqwa,  meyakini perkara ghaib juga melahirkan sikap kehambaan yang sempurna dan kepekaan sosial yang diwujudkan dalam memberikan kontribusi apa yang dimilikinya demi kemaslahatan bersama (bersambung ayat 4)

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry