SURABAYA | duta.co  – Komisi E DPRD Jatim mendesak Pemprov Jatim supaya fokus meningkatkan kualitas SMK. Pasalnya, berdasarkan hasil survei Badan Statistik Nasional (BPS) tahun 2017 menyebutkan bahwa 10 persen angka pengangguran terbuka di Jatim disumbang oleh lulusan SMK.

“Salah satu penyebabnya karena 40 persen kualitas lulusan SMK di Jatim belum terstandar, sehingga sulit terserap industri yang membuka lapangan kerja,” ujar wakil ketua Komisi E DPRD Jatim, Suli Daim saat dikonfirmasi Kamis (9/8/2018).

Menurut politisi asal FPAN, di Jatim terdapat 1.996 SMK swasta dan 296 SMK Negeri dengan jumlah lulusan sebanyak 220.958 orang. Namun dari total lulusan tersebut, hanya 64,11 persen saja yang bisa diterima di industri.

“Padahal jumlah lowongan tenaga kerja yang tersedia di Jatim mencapai 390 ribu hingga 400 ribu tapi baru bisa dipenuhi 234 ribu, karena itu kita masih kekurangan tenaga terampil sekitar 100 ribu lebih,” ungkap Suli.

Sedangkan untuk total tenaga kerja terampil di Jatim, baik dari lulusan SMK, SMK Mini, BLK, dan Politeknik mencapai  234.088 orang. Untuk itu Pemprov Jatim menargetkan tahun 2019 komposisi pendidikan vokasional 70 persen SMK dan 30 persen SMA tuntas.

Untuk meningkatkan standar kualitas SMK, pemprov Jatim tahun 2018 telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 300 miliar untuk pembenahan dan pembangunan inkubator-inkubator pelatihan. “Inkubator ini dibutuhkan untuk membuka dan menyerap tenaga kerja di bidang industri, dan untuk mewadahi siswa SMK yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi,” jelas Suli.

Desain revitalisasi SMK yang telah dibuat oleh Pemprov Jatim di antaranya melalui link and match dengan industri, program filial dengan perguruan tinggi, pembentukan SMK BLUD dan double track ekstrakurikuler vokasi di SMA dan MA. Selain itu, ada pula SMK berbasis kluster yang fokusuntuk mengelompokkan vokasional tertentu.

Berkembang ke Arah Pertanian

Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan vokasi bisa memenuhi lowongan tenaga kerja yang ada sehingga bisa menurunkan angka pengangguran di Jatim. “Selain itu, terpenuhinya tenaga kerja terampil atau skill lewat pendidikan vokasi merupakan jawaban agar Jatim terhindar dari middle income trap,” tegas politisi asal Lamongan.

Di sisi lain, SMK juga dikembangkan ke arah pertanian dan pengolahan hasil pertanian sesuai dengan potensi masing-masing. Saat ini ada sekitar 50 SMK negeri dan beberapa SMK swasta yang sudah berjalan. Misalnya, SMKN 5 Jember itu sudah mengembangkan kerja sama dengan Belanda, kemudian SMK di Gondang, Nganjuk lahannya cukup luas dengan 23 hektar.

Teknologi pertanian di sekolah tersebut juga berkembang. Bahkan, beberapa produk hasil pengolahan pertanian sudah bisa dikatakan layak jual. “SMKN di Jember bahkan memiliki peternakan yang menghasilkan ayam petelur. Telurnya itu untuk konsumsi wilayah Jember dan ayam pedagingnya juga untuk konsumsi wilayah Jember,” bebernya.

Di Madiun juga tak kalah menarik, SMKN 3 produk unggulannya adalah ekstrak Bawang Lanang yang terkenal untuk kolesterol hipertensi maupun vitalitas, juga produk-produk unggulan lainnya seperti kebutuhan rumah tangga. (ud)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.