Oleh Bey Arifin*

PERGANTIAN tahun Hijriah selalu menghadirkan suasana reflektif bagi umat Islam. Namun di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, datangnya 1 Muharram tidak hanya dimaknai sebagai momentum keagamaan, tetapi juga beririsan dengan tradisi budaya yang dikenal sebagai Satu Suro.

Persinggungan ini sering menimbulkan perdebatan: apakah Satu Suro merupakan bagian dari ajaran Islam atau sekadar tradisi budaya? Pertanyaan tersebut sesungguhnya dapat dijawab melalui perspektif yang lebih jernih, yakni melihatnya sebagai proses dialektika antara Islam dan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Islam yang datang ke Nusantara tidak hadir di ruang kosong. Ia bertemu dengan berbagai tradisi, adat istiadat, sistem nilai, dan kebudayaan yang telah hidup di tengah masyarakat.

Para ulama dan wali tidak memilih jalan konfrontasi dengan menghapus seluruh warisan budaya lokal. Sebaliknya, mereka menempuh strategi transformasi kultural: mempertahankan tradisi yang baik, memperbaiki yang kurang sesuai, dan menghapus unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip tauhid.

Dari proses inilah lahir wajah Islam Nusantara yang damai, moderat, dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Satu Suro merupakan salah satu contoh nyata keberhasilan proses tersebut. Secara historis, istilah “Suro” berasal dari kata “Asyura”, bulan yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Islam.

Pada masa Sultan Agung Mataram, kalender Jawa yang sebelumnya berbasis sistem Saka dipadukan dengan kalender Hijriah. Hasilnya bukan sekadar perubahan sistem penanggalan, melainkan sebuah sintesis peradaban yang mempertemukan identitas keislaman dengan kearifan lokal Nusantara.

Karena itu, memahami Satu Suro hanya sebagai tradisi mistik adalah penyederhanaan sejarah yang berlebihan. Dalam praktik masyarakat, malam Satu Suro sering diisi dengan doa bersama, istighasah, pengajian, tahlil, muhasabah, santunan sosial, hingga berbagai bentuk laku spiritual yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tradisi budaya menjadi wadah, sedangkan nilai-nilai Islam menjadi ruh yang menghidupinya.

Di sinilah letak keunikan dakwah Islam Nusantara. Islam tidak menghancurkan budaya, tetapi merekonstruksinya. Islam tidak memutus akar sejarah masyarakat, melainkan mengarahkannya menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Budaya dijadikan jembatan dakwah, bukan penghalang dakwah.

Oleh sebab itu, keberhasilan penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari kemampuan para ulama membaca realitas sosial dan mengintegrasikan ajaran agama ke dalam denyut kehidupan masyarakat.

Momentum 1 Muharram dan Satu Suro tahun ini menjadi pengingat bahwa agama dan budaya tidak selalu berada dalam posisi saling berhadapan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama budaya tidak melanggar prinsip-prinsip akidah dan syariat.

Islam memberikan arah dan nilai, sedangkan budaya menyediakan ruang ekspresi sosial yang membuat nilai-nilai tersebut mudah diterima dan dihayati oleh masyarakat.

Di tengah era digital yang sarat polarisasi, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Tidak sedikit pihak yang memandang budaya secara hitam-putih: harus diterima sepenuhnya atau ditolak seluruhnya.

Padahal, tradisi intelektual ulama Nusantara mengajarkan jalan tengah yang lebih bijaksana. Mereka menilai budaya dengan parameter maslahat, akhlak, dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam.

Pendekatan inilah yang melahirkan peradaban yang inklusif tanpa kehilangan identitas keagamaannya.
Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri mewarisi semangat tersebut melalui kaidah yang sangat terkenal:

المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح

Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Kaidah ini bukan sekadar slogan, melainkan metodologi peradaban yang memungkinkan Islam terus relevan di setiap zaman tanpa tercerabut dari akar sejarahnya.

Dengan demikian, perjumpaan antara 1 Muharram dan Satu Suro bukanlah benturan antara agama dan budaya, melainkan kisah panjang tentang dialog keduanya dalam membangun peradaban.

Dari dialektika itulah lahir masyarakat yang religius tanpa kehilangan jati dirinya, serta masyarakat yang berbudaya tanpa menjauh dari nilai-nilai ketuhanan. Inilah warisan besar Islam Nusantara: menghadirkan harmoni antara wahyu dan tradisi, antara langit spiritualitas dan bumi kebudayaan, demi terwujudnya kehidupan yang lebih beradab, damai, dan bermartabat.

*Bey Arifin adalah Pengurus LKSPHK PRESNAS IKAPETE
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry