“Pondok Pesantren An Nawawi, sebagai tempat pelantikan, bukanlah lokasi biasa. Di sinilah dulu KH. Nawawi Abdul Aziz, sang mu’assis JATMAN, menanamkan benih awal keberorganisasian tarekat muktabarah dalam bingkai jam’iyyah.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

“Celupan Allah-lah (ṣibghah Allah), dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 138)

Ayat pembuka yang disampaikan oleh KH. Musthafa Qutbi Baderi, Wakil Mudir Aly dalam rapat koordinasi teknis Panitia Pelantikan dan Rakernas I Idarah Aliyyah Jatman, malam ini, 10 Muharram 1447 H. Terinspirasi oleh makna ayat ini, saya mencoba untuk menggali lebih dalam maknanya secara ruhani.

Ayat ini bukan sekadar syi’ar spiritual, tetapi isyarat metafisik yang menggambarkan bagaimana satu komunitas ruhani dicelup dalam warna ilahiah, hingga tidak lagi menampakkan warna duniawi selain apa yang telah dititahkan-Nya.

Dalam konteks Pelantikan Idarah ‘Aliyah JATMAN Masa Khidmat 2025–2030 di Pondok Pesantren An Nawawi, Berjan, Purworejo, ayat ini seolah menjelma menjadi ruh peristiwa: celupan Allah itu sedang menegaskan identitas dan arah baru JATMAN.

Kembali ke Pangkuan Nahdlatul Ulama: Jalur Sunyi Menuju Cahaya

Setelah sekian lama berada dalam pusaran tarik-menarik arah dan figur, JATMAN kini kembali menjejak asal-muasalnya, yaitu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Nahdlatul Ulama.

Hal ini bukan hanya peristiwa administratif atau struktural, melainkan penanda spiritual bahwa JATMAN sedang ditarik kembali kepada akar sanad keilmuannya, tempat ia pertama kali bersemi sebagai Jam’iyyah Ahli Thariqah yang menyeimbangkan dimensi keislaman, keindonesiaan, dan kesufian.

Pondok Pesantren An Nawawi, sebagai tempat pelantikan, bukanlah lokasi biasa. Di sinilah dulu KH. Nawawi Abdul Aziz, sang mu’assis JATMAN, menanamkan benih awal keberorganisasian tarekat muktabarah dalam bingkai jam’iyyah.

Namun sayangnya, dalam perjalanan sejarah, banyak pihak yang mengaburkan peran KH. Nawawi, menggantinya dengan narasi-narasi baru demi legitimasi politik spiritual tertentu. Pelantikan di Berjan adalah upaya untuk meluruskan sejarah dan mengembalikan ruhul jihad KH. Nawawi dalam tubuh JATMAN.

Ṣibghatallāh: Manifestasi dalam Kepemimpinan Baru

Pemilihan tema ruhani “Ṣibghatallāh” dalam pelantikan ini sejatinya menunjukkan bahwa pelantikan bukan semata serah terima jabatan, tapi sebuah pembaruan bai’at ruhaniyah. Warna Allah berarti komitmen total pada jalan thariqah, disiplin batin, dan ketundukan mutlak kepada Allah dalam bingkai tarekat yang tersambung sanadnya, jelas akidahnya, dan teguh khidmatnya.

Makna ṣibghah ini makin konkret dalam sosok kepemimpinan JATMAN saat ini, di mana KH. Achmad Chalwani Nawawi didaulat sebagai Rais ‘Aly dan Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa sebagai Mudir ‘Aly Idarah ‘Aliyah JATMAN 2025–2030.

Achmad Chalwani, bukan hanya seorang mursyid mursalsal dalam silsilah thariqah, tetapi juga merupakan dzurriyah langsung dari KH. Nawawi Abdul Aziz, salah satu mu’assis JATMAN. Ia mewarisi ruh, sanad, dan visi awal jam’iyyah ini sejak dari sumber mata airnya.

Sedangkan KH. Ali Masykur Musa, juga seorang mursyid, namun dengan latar belakang yang meneguhkan posisi JATMAN sebagai entitas ruhani yang sadar sosial-politik. Ia dikenal sebagai aktivis, akademisi, dan intelektual nasional, menjadikan posisinya sebagai jembatan antara dunia ruhaniyah dan dunia kebangsaan.

Kepemimpinan dua tokoh ini mencerminkan ṣibghah Allah dalam dua dimensi: warisan ruhani (dzurriyah) dan ikhtiar sosial intelektual, sebuah harmoni antara pewarisan dan pembaruan.

Meluruskan Sejarah, Meneguhkan Masa Depan

Selama ini, tidak sedikit narasi sejarah yang mencoba mengaburkan asal-usul JATMAN, menggeser pusat gravitasinya dari pesantren-pesantren mu’tabarah ke figur-figur karismatik tertentu yang tidak selalu mewarisi visi para mu’assis.

Hal ini berdampak pada keterputusan ruhul jam’iyyah dari Nahdlatul Ulama sebagai induk gerakan, dan inilah luka sejarah yang pelan-pelan disembuhkan oleh generasi baru.

Pelantikan di Berjan adalah pernyataan keras tapi santun bahwa JATMAN bukan milik perseorangan, tapi milik umat, milik Nahdlatul Ulama, dan milik bangsa. Dengan kembali menapak jejak KH. Nawawi di tanah kelahirannya, pelantikan ini menjadi rekonsiliasi ruhaniyah antara masa lalu yang terluka dan masa depan yang bercahaya.

Hikmah Ruhani: Dari Ṣibghah ke Tsabat

Dalam dunia tarekat, yang terpenting bukan hanya bai’at, tapi tsabat (keteguhan). Maka semoga dari pelantikan ini, lahir Idarah ‘Aliyah, yang tidak hanya berbai’at secara struktural, tapi juga bertsabat secara ruhani, siap menuntun para salik menuju Allah dengan sanad yang sahih, adab yang luhur, dan sikap yang tawadhu’.

Sebagaimana celupan Allah tidak akan luntur oleh waktu, semoga ṣibghah JATMAN 2025–2030 menjadi warna baru bagi kebangkitan Islam Nusantara dan menjadi ‘Cahaya Tauhid di Setiap Jengkal Tanah Air.’ (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry