Thursday , August 17 2017
PASAR EKSPOR: Pekerja sedang menyelesaikan produk furniture untuk pasar ekspor.|DUTA/DOK

Tiongkok Lesu, Ekspor Jatim Tetap Surplus

PASAR EKSPOR: Pekerja sedang menyelesaikan produk furniture untuk pasar ekspor.|DUTA/DOK

SURABAYA – Tahun 2017, kinerja ekspor Jawa Timur (Jatim) khususnya ke Tiongkok bakal lebih berat menyusul perekonomian Negara tirai bambu yang melambat. Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor terbesar kedua bagi Jatim setelah Amerika Serikat, dan pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Tiongkok melorot ke level 6 persen.

Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Daerah Bank Indonesia (BI) wilayah Jatim, Taufik Saleh memprediksi ekspor wilayah setempat akan terimbas menurunnya perekonomian Tiongkok.

Meski demikian, neraca perdagangan Jatim bakal surplus di tahun 2017, karena kondisi ekonomi global akan terus membaik, yang membuat belanja beberapa negara juga ikut naik.

“Ekspor Jatim ke Tiongkok masih ‘wait and see’, sebab kondisi ekonomi Tiongkok melambat tahun 2016, dan ini dapat mengancam neraca perdagangan Jawa Timur pada tahun 2017,” kata Taufik.

Padahal, kata Taufik, di tahun 2015 pertumbuhan ekonomi di negeri Tirai bambu itu konsisten berada di angka 8 persen. Pelambatan ekonomi Tiongkok pada 2016 otomatis membuat pemerintah setempat menahan impor di tahun 2017, termasuk dari Jatim.

“Karena itu, potensi tergerusnya nilai ekspor ke Tiongkok masih sangat besar. Sebab, pemerintah Tiongkok jelas akan mengetatkan anggaran,” katanya.

Bahkan, kata Taufik, pemerintah Tiongkok bisa jadi akan menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan ekspor produk jadi secara besar-besaran.

“Indonesia jelas menjadi pasar yang paling besar bagi Tiongkok. Sebab, sudah ada aturan free trade agreement. Apalagi masyarakat Indonesia terkenal sangat konsumtif, ini akan mengancam produk lokal di pasar domestik,” ucapnya.

Taufik mengatakan, jika hal tersebut terjadi, maka produk domestik yang tergerus di pasaran otomatis bakal membuat pertumbuhan ekonomi nasional terhambat.

“Karena itu, produk kita harus bisa meningkatkan kualitas agar tak kalah dengan produk Tiongkok.

Dengan demikian, tahun 2017 neraca perdagangan Jatim berpotensi surplus lagi. Dengan beberapa komoditi lawas yang masih jadi andalan, seperti logam dan batu mulia, kayu, hingga permintaan migas yang tahun depan akan cenderung naik,” ucapnya.

Sementara itu, Dari data Badan Pusat Statistik (BPS),  eskpor Jatim sepanjang Januari-November 2016 mencapai 17,4 miliar dolar Amerika, dan dari jumlah tersebut ekspor ke Tiongkok berkontribusi hingga 27 persen. (imm)

Check Also

Stabilitasi Harga, Aprindo Order 300 Ton Gula Bulog

SURABAYA | duta.co – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memesan 300 ton gula Manis Kita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *