Friday , June 23 2017
Danlanud Abdurahman Saleh Malang Marsma TNI H RM Djoko Senoputro melayat ke rumah duka (alm) Peltu Suyata ditemui Ny Agus Purwati, istri almarhum‎, di Malang, Minggu (18/12).|duta/aris

Tahajud Terakhir Peltu Suyata sebelum Kecelakaan

 Duka Korban Hercules Tabrak Gunung di Papua

 

Danlanud Abdurahman Saleh Malang Marsma TNI H RM Djoko Senoputro melayat ke rumah duka (alm) Peltu Suyata ditemui Ny Agus Purwati, istri almarhum‎, di Malang, Minggu (18/12).|duta/aris

Suasana duka begitu terasa di Perumahan Asrikaton Indah, Pakis, Kabupaten Malang. Perumahan ini adalah tempat tinggal dua kru pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Minggu pagi (18/12).

RUMAH Pembantu Letnan Dua (Pelda) Agung Sugihantono dan Pembantu Letnan Satu (Peltu) Suyata berada berdekatan. Hanya berjarak lima langkah.

Menurut penuturan Tri, tetangga Pelda Agung Sugihantono, istri Pelda Agung Linda Lidia sejak dua pekan lalu sakit typhus. Saat ini Linda sedang berobat jalan. Tri bercerita,  Linda langsung mendatangi rumahnya saat mendengar kabar pesawat Hercules yang ditumpangi suaminya jatuh. Saat itu Tri mengatakan bahwa ia belum mendapat kabar dari suaminya yang juga anggota TNI AU.

“Saya hanya meminta sabar dan merawat anaknya yang masih SD dan SMP. Linda cerita, terakhir kontak melalui pesan pendek yang mengatakan jika tak bisa dihubungi berarti dirinya telah berada di pesawat,” ujar Tri, Minggu (18/12).

Pelda Agung bertugas sebagai load master, pada hari Jumat (16/12) lalu, baru saja pulang dari Sabang. Pelda Agung dikenal sebagai pribadi yang baik dan pendiam. “Orangnya supel, rajin salat di masjid. Suka olahraga juga orangnya,” ucap Tri.

Agus Purwati, istri Pembantu Letnan Satu Suyata juga tak kuasa menahan air matanya. Menggunakan mukena putih ia mencoba tegar menerima setiap tamu yang bertakziah ke rumah duka. Peltu Suyata salah satu kru pesawat Hercules.

Purwati ikhlas dengan musibah ini. Ia pun mengaku menyerahkan pemakaman suaminya kepada pihak Lanud Abd Saleh jika akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Untung Suropati.

“Saya ikhlas. Gimana lagi, namanya musibah. Saya kaget mendengarnya tapi bagaimana lagi ini takdir,” ujar Purwati saat menemui Komandan Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh Malang Marsma TNI H RM Djoko Senoputro di rumah duka Jalan Kebun Nangka 1 Blok K2 Nomor 5, Perumahan Asrikaton Indah, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (18/12).

Purwati mengatakan, almarhum Peltu Suyata sempat berpesan kepadanya agar tidak meninggalkan salat tahajud. Pesan itu disampaikan oleh korban, sebelum berangkat kerja yang berujung musibah tersebut. “Sebelum berangkat hanya berpesan untuk tidak meninggalkan salat tahajud,” ujarnya.

Purwati kepada wartawan yang menemuinya meminta doa agar dosa-dosa suaminya diampuni. Almarhum dikenal sebagai sosok relijius, tanggung jawab, dan sayang dengan keluarga. Pernikahan Purwati dengan Peltu Suyata dikaruniai tiga anak yakni Nanda, Putri dan Fitria.

Cerita Purwati ditegaskan adiknya yang juga adik ipar almarhum Peltu Suyata, Dwi Wardana. Dia menceritakan, Minggu (18/12) dinihari Peltu Suyata sempat menelepon istrinya. Berpamitan untuk segera menunaikan ibadah salat tahajud. Malam itu menjadi salat tahajud terakhir Peltu Suyata.

“Kakak ipar saya sangat religius, setelah tahajud telepon istrinya di rumah. Kami insyaallah ikhlas, sudah tahu risiko pekerjaan yang dialami seorang anggota TNI Angkatan Udara,” ucap Dwi Wardana yang juga akrab dipanggil Yoyok.

“Dia sudah 20 tahun menjadi teknisi pesawat. Sering melakukan penerbangan pesawat ke Kalimantan, Sumatera dan Papua,” ujar Yoyok menambahkan.

Yoyok mengaku menjalin kontak dengan korban sehari sebelumnya melalui aplikasi WhatsSpp keluarga. Tetapi kontak secara langsung sekitar beberapa bulan lalu, tepatnya saat Idul Fitri.

“Tadi sekitar pukul 09.00 WIB dapat kabar, kalau kakak mengalami kecelakaan. Keluarga bisa tenang, bisa mengikhlaskan kepergian almarhum,” katanya.

Sementara itu, tetangga Sersan Mayor Achmad Fatoni, korban Hercules lainnya, mengaku kaget dan tidak percaya jika warga kompleks Amarta Lanud Abd Saleh itu meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat Hercules di Timika Papua.

Sebelum berangkat pada Sabtu 17 Desember lalu, Serma Fatoni sempat meminum kopi di warung Supaini. “Keluarga tinggal di sini baik, anaknya empat, sering ke warung saya ngopi. Sebelumnya bercanda di sini, sering ngopi di sini. Ya Allah saya tidak percaya sebelumnya,” kata Supaini.

Datangi Skadron 32

Sementara itu, keluarga awak pesawat Hercules A-1334 yang jatuh di Gunung Tugima, Wamena, Papua, pagi kemarin, sudah mulai mendatangi hanggar Skadron Udara 32, markas Hercules nahas tersebut.

Dari pantauan di lokasi, Landasan Udara Abdulrahman Saleh, Kabupaten Malang, Minggu (18/12), sebanyak 13 meja untuk peti jenazah telah disiapkan. Begitu juga kursi sebagai tempat duduk keluarga yang ikut dalam prosesi upacara militer penyerahan jenazah.

Kesedihan masih tampak pada raut wajah keluarga yang hadir, mereka sabar menunggu kehadiran pesawat yang membawa peti jenazah dari Biak, selepas proses evakuasi.

Tampak juga prajurit TNI AU berseragam lengkap hadir memenuhi pelataran hanggar Skadron Udara 32 untuk mengikuti upacara militer. Sebanyak 13 ,obil ambulans turut disiagakan untuk membawa peti jenazah ke rumah duka.

“Persiapan upacara penyerahan jenazah sudah dilakukan termasuk mobil ambulans,” ujar Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Abdulrachman Saleh Mayor (khusus) Hamdi Londong Allo kepada wartawan di lokasi.

Menurut dia, pesawat Boieng membawa 13 korban akan tiba di Lanud Abdulrachman Saleh sekitar pukul 19.00 WIB tadi malam. Tetapi, Londong tidak dapat memastikan apakah pesawat tiba sesuai jadwal. “Perkiraan jam segitu,” tegasnya. ari, meo, dit

Check Also

Mendikbud: Full Day School Tak Dibatalkan tapi Diperkuat

JAKARTA | duta.co – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy membantah program sekolah 8 jam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *