Saturday , July 22 2017
LAPOR BARESKRIM: Lina Novita (kanan), pengacara Michael Bimo, melaporkan penulis buku “Jokowi Undercover” ke Bareskrim Polri, Sabtu (24/12) malam.|IST

Penulis “Jokowi Undercover” Dipolisikan

Bambang Tri Persilakan Jokowi Berikan Klarifikasi

LAPOR BARESKRIM: Lina Novita (kanan), pengacara Michael Bimo, melaporkan penulis buku “Jokowi Undercover” ke Bareskrim Polri, Sabtu (24/12) malam.|IST

JAKARTA-Penulis buku “Jokowi Undercover”, Bambang Tri Mulyono, dilaporkan ke Bareskrim Polri. Bambang Tri dilaporkan kuasa hukum Michael Bimo selaku pihak yang merasa difitnah atas penulisan buku yang dibedah di Pendapa Kecamatan Muntilan, Magelang, yang disebut tanpa seizin pihak kecamatan beberapa hari lalu.

“Dalam bukunya itu ada dua hal yang prinsip bahwa Pak Bimo disebut satu keturunan dengan Pak Jokowi (Presiden RI). Disebutkan bahwa silsilah keluarga klien saya berasal dari PKI. Padahal bapaknya klien saya seorang pegawai negeri dan kakeknya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,” ungkap kuasa hukum Michael Bimo, Lina Novita, saat dikonfirmasi, Minggu (25/12).

Kuasa hukum Michael Bimo membuat laporan ke Bareskrim Polri, Sabtu malam (24/12), dengan nomor: LP/1272/XII/2016/Bareskrim. Bambang Tri dilaporkan atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan atau fitnah.

“Saya tegaskan bahwa isi buku ‘Jokowi Undercover’ adalah tidak benar dan fitnah yang mana sangat merugikan bangsa Indonesia pada umumnya, mengingat tuduhan-tuduhan di buku tersebut terkait dengan komunisme dan tuduhan lain yang bersifat pribadi sangat menimbulkan permusuhan di antara sesama anak bangsa,” tutur Lina.

Salah satu halaman “Jokowi Undercover”.|IST

Dia juga mengirimkan foto yang disebut merupakan potongan isi dari buku “Jokowi Undercover”. Di situ tertulis bahwa Michael Bimo memiliki hubungan darah dengan Jokowi. Tertulis pula bahwa Jokowi bukan anak kandung dari Ibu Sudjiatmi.

Lina menyebut buku yang ditulis Bambang Tri dijual bebas bagi yang memesan. Pemesanan dilakukan lewat akun facebook milik Bambang Tri. Buku tersebut setebal 400 halaman dan disebut Lina tak ada konfirmasi kepada kliennya.

“Kalau kita lihat ini cukup unik, buku ini memiliki ketebalan 400 halaman dan dicetak dalam jumlah besar. Mencetak buku setebal itu bukan biaya yang murah, apalagi sejumlah untuk diperjualbelikan. Jadi kami laporkan supaya hal-hal seperti ini tidak menyebar dan menjadi fitnah,” ujar Lina.

Lina berharap polisi segera melakukan proses hukum terhadap Bambang Tri. Selain merugikan kliennya, buku tersebut dinilai telah mencemarkan nama baik keluarga besar Michael Bimo.

Bambang Klaim Lakukan Riset

Sementara itu, Bambang Tri Mulyono, pengarang buku berjudul “Jokowi Undercover”, bersikukuh bahwa bukunya dibuat berdasarkan riset, meski dituding memfitnah Jokowi.  “Saya menulis buku berdasarkan riset data,” kata Bambang Tri dikutip dari merdeka.com Jumat (23/12) malam.

Pria asal Blora ini menceritakan, proses pembuatan bukunya itu diawali pada 3 Desember 2014. Saat itu dia menemukan foto Widjiatno, seorang pria yang wajahnya mirip dengan Jokowi, di situs www.antifaker-Indonesia.com.

Foto bertahun 1955 yang dia jadikan cover buku “Jokowi Undercover” itu menggambarkan pria mirip Presiden Jokowi itu mengawal tokoh PKI Aidit. Widjiatno itulah yang dianggapnya sebagai ayah kandung Jokowi.

“Awal mulanya saya menemukan foto tersebar mirip Jokowi mengawal Aidit. Ada di situs antifaker-Indonesia.com,” ungkap mantan wartawan surat kabar terbitan Kota Semarang, “Wawasan” ini.

Bambang Tri mengaku akibat tulisan itu dirinya sempat dicurigai sebagai orangnya Prabowo yang kebetulan saat menemukan foto pria mirip Jokowi mengawal Aidit itu menjelang Pilpres 2014.

“Dikomentari juga soal saya kubu Prabowo. Dikatakan juga dalam komentar kalau foto itu foto editan yang sengaja disebar ingin menjatuhkan Jokowi saat kampanye Pilpres. Kalau mau pembuktian ada di internet,” ucap Bambang Tri yang juga mengaku sebagai mantan wartawan surat kabar Jepang Jakarta Simboen yang bertugas di Jakarta tahun 2001 ini.

Soal Foto Tunangan Jokowi

Kemudian, Bambang Tri juga mengaku menemukan kejanggalan pada foto pertunangan Jokowi. Dirinya tak ingin masuk dan terjebak pada isu itu (Pilpres). Lalu memulai memperdalam riset dan menemukan foto pertunangan Jokowi dengan istrinya, Iriyana, yang menurutnya palsu. Di foto itu, seolah-olah dibuat Jokowi adalah anak kandung Sujiatmi.

Padahal, Jokowi menurut buku Bambang Tri adalah anak kandung seorang wanita China Yap Mei Hwa dari pernikahannya bersama Widjiatno, pengawal tokoh PKI Aidit.

Di foto itu juga ada sosok Sudjadi, mantan politisi Golkar yang kini menjadi anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang dalam foto tubuhnya diganti dengan tubuh Widjiatno. Di dalam foto, ibu kandung Jokowi, Yap Mei Hwa, wajahnya diganti dengan foto wajah Sujiatmi.

“Saya temukan pemalsuan di foto pertuangan Jokowi. Semua saya tulis di buku (Jokowi Undercover). Ada beberapa saksi yang saya temui berkaitan dengan keberadaan keluarga Bu Sujiatmi. Faktanya sebelum menikah dengan bapak Jokowi (Sujiatmo) sudah menikah,” beber pria alumni SMA Negeri 1 Blora ini.

Bambang Tri juga menemukan dokumen saat Jokowi mendaftarkan diri ke KPU sebelum dirinya menjadi Capres dan memenangkan pertarungan Pilpres 2014 yang didampingi oleh wakilnya, Jusuf Kalla. Saat itu Jokowi bertarung dengan Capres Prabowo Subianto.

“Temukan dokumen Jokowi di KPU yang di situ terjadi salah tulis tiga nama adik Jokowi,” terang pria yang pernah kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, ini.

Selain itu, kejanggalan yang terjadi saat dirinya usai menulis buku “Jokowi Undercover” ini, dirinya ditelepon beberapa orang-orang yang menyatakan kepadanya bahwa buku yang dia tulis mengandung unsur kebenaran.

Membela Soeharto

Bambang Tri juga mengungkapkan, dalam buku “Jokowi Undercover” ini, dirinya secara lugas dan tegas menjelaskan bahwa almarhum Presiden Soeharto bukanlah sebagai antek-antek atau dalang terjadinya PKI.

“Saya bela Pak Harto (Soeharto) yang dituding PKI dalam buku saya. Pembuktian yang saya gunakan dengan dokumen Suparjo, teori Resmikoff, dan buku dari John Rossa,” ungkapnya.

Dia merasa bahwa fakta yang ditemukanya selama menyusun buku “Jokowi Undercover” ini harus disampaikan kepada masyarakat. “Saya yang harus jelaskan langsung kepada masyarakat. Apalagi, setelah diperiksa (Polda Jateng) tidak ada pengangkatan status saya sebagai tersangka. Makanya saya menghadiri diskusi di Magelang,” bebernya.

Bambang Tri bahkan mengaku bahwa usai menulis buku sudah mengirimkan ke beberapa pejabat untuk disampaikan langsung kepada Jokowi. Namun, sampai saat ini tidak ada tanggapan dan klarifikasi dari Jokowi.

“Saya ajak berkali-kali. Yang pertama, melalui surat terbuka saya di facebook. Kedua, lewat Pramono Anung (Sekretaris Kabinet). Ketiga, lewat Ganjar (Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo). Termasuk saya berikan kepada polisi yang pernah memeriksa saya. Saya tiga minggu yang lalu diperiksa Kepala Cybercrime Polda Jateng Pak Teddy,” jelasnya.

Persilakan Jokowi Klarifikasi

Maka dari itu, Bambang Tri meminta kepada Jokowi untuk mengklarifikasi terkait beberapa temuan yang dia tulis dalam buku “Jokowi Undercover” ini yang dianggapnya sebagai bukti yang sah. “Buku saya sah dibuat. Saya minta supaya Pak Jokowi lakukan klarifikasi. Buku saya tidak ada yang bertentangan,” terangnya.

Logikanya, menurut Bambang Tri, jika ada yang salah tulisan dalam bukunya mengapa Jokowi tidak melaporkan dirinya ke polisi.

“Logikanya, Jokowi tidak lapor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik atau penyebar fitnah. Saya anggap ini sebagai perlakuan bahwa saya belum sama di mata hukum. Secara hukum saya tidak bisa dikatakan fitnah sebelum (Jokowi) tes DNA. Salahnya Jokowi tidak menuntut saya,” pungkasnya.

Isu Jokowi keluarga PKI ini pernah beredar beberapa waktu lalu. Badan Intelijen Negara (BIN) langsung melakukan penyelidikan dan hasilnya, mereka memastikan tidak ada catatan bahwa orang tua Presiden Jokowi adalah tokoh atau kader PKI, baik di Giriroto, Boyolali, maupun di daerah lain.

“Tuduhan bahwa Presiden Joko Widodo dan orang tua atau keluarga Presiden Joko Widodo terlibat PKI adalah fitnah,” kata Kepala BIN saat itu Sutiyoso. kim, dit, mer

Check Also

Gerindra: Prabowo Diganjal PT 20%

JAKARTA | duta.co  – Partai Gerindra punya kekhawatiran akan gagalnya sang ketum, Prabowo Subianto, kembali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *