Thursday , July 27 2017
Yuli Indah Purwanti (36), istri alm Serda Suyanto memegangi foto sang suami menjelang pemakaman di TPU Gemol, Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya, Senin (19/12).|MER

Pemalu, Suyanto Daftar TNI AU Diam-Diam

Pemakaman Korban Jatuhnya Hercules di Papua

Yuli Indah Purwanti (36), istri alm Serda Suyanto memegangi foto sang suami menjelang pemakaman di TPU Gemol, Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya, Senin (19/12).|MER

Meski berusaha tegar, keluarga dan teman para personel TNI AU korban Hercules yang jatuh di Papua akhirnya ‘tumbang’ saat penyerahan jenazah maupun pemakaman sang suami, Senin (19/12). Tak terkecuali kaluarga Serda Suyanto di Surabaya.

Almarhum Serda Suyanto, anggota TNI AU korban jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Papua dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gemol, Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya, Senin (19/12). Sebelum dimakamkan, jenazah terlebih dahulu disalatkan di Masjid Ashobirin.

Selanjutnya jenazah dibawa ke lokasi pemakaman dengan diiringi oleh ratusan pelayat. Pemakaman Saat jenazah hendak dimasukkan liang lahat, sejumlah anggota TNI AU melakukan upacara militer untuk menghormati jenazah almarhum Suyanto.

Sementara itu, Yuli Indah Purwanti (36), istri almarhum terus menangis. Yuli berdiri di samping makam sembari memeluk erat foto sang suami. Sesekali Yuli juga melemparkan pandangan ke liang lahat sang suami, sambil mengusap air matanya.

Sejumlah tetangga, dan kerabat kembali berusaha menenangkan Yuli. Namun, lagi-lagi Yuli menangis. Meski demikian, Yuli mengaku sudah ikhlas melepas kepergian sang suami. Terlebih, sang suami gugur karena harus menjalankan tugas negara.

 “Saya memang sedih suami pergi. Tapi saya juga harus ikhlas, apalagi dia melakukannya demi negara,” kata Yuli singkat. Selain meninggalkan satu orang istri, almarhum juga meninggalkan dua orang anak. Mereka adalah Rasi Rasendrya Putra (13), dan Alesha Zahra Zahira (2).

Sementara, Patiyani, ibunda almarhum Suyanto, terlihat duduk di sudut ruang tamu. Di sana, dia menyampaikan sejumlah kenangan atas putranya itu kepada sejumlah orang. Patiyani mengungkapkan, salah satu hal yang paling dia ingat atas putranya itu adalah saat dia hendak mendaftar menjadi anggota TNI AU.

Saat itu, Suyanto meminta agar dia tidak memberitahukan hal itu kepada siapa pun. “Karena dia itu kan anaknya pemalu. Makanya, dia mungkin malu nanti kalau sampai tidak lulus tes masuk TNI,” kata Patiyani.

Bahkan, untuk menyembunyikan hal itu, saat berangkat dari rumah untuk mengikuti ujian itu, Suyanto menyelipkan ijazah miliknya di dalam tubuhnya. Tujuannya, agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya mengikuti tes tersebut. “Ijazahnya itu dilipat, lalu diselipkan di dalam tubuhnya,” ujar Patiyani.

Awalnya, saat akan mengikuti tes tersebut, Patiyani rela. Alasannya, Patiyani menyadari betul nyawa menjadi menjadi taruhan bagi seorang prajurit.

Namun, karena melihat keteguhan tekad sang anak, Patiyani pun merelakannya. Sehingga, dia pun merestuinya, dan mendoakan agar Suyanto lulus dalam tes itu. “Ternyata doa saya dikabulkan Tuhan, anak saya lulus tes masuk TNI Angkatan Udara,” kata Patiyani.

Serda Suryanto, merupakan salah seorang dari 13 korban tewas saat insiden jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Papua, Minggu, 18 Desember 2016. Pesawat ini membawa 12 ton semen untuk aktivitas pembangunan di Papua. Namun nahas, pesawat ini justru terjatuh sebelum sampai di tujuan.

Mbah Giyem Terus Menangis

Sementara itu, tangis pecah dari Mbah Giyem, ibu kandung almarhum Pelda Agung Sugihantono, begitu jenazah korban Hercules jatuh di Papua itu tiba di rumah duka, Kelurahan Mranggen, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Senin (19/12) siang. Sedangkan Sumiran, ayah kandung almarhum, terlihat tabah.

Begitu mobil jenazah dari Lanud Iswahjudi tiba di sebelah rumah, diiringi turunnya Linda, istri Pelda Agung Sugihantono, terlihat langsung memasuki rumah, spontan Mbah Giyem langsung memeluk sang menantu dan pecahlah tangis.

“Kok, kamu meninggal duluan, to, Nak,” ujar Mbah Giyem sambil sesekali sang menantu. Tangis makin kencang begitu peti dimasukkan dalam rumah, membuat Mbah Giyem dibawa masuk.

Sejenak, peti jenazah berbalut bendera merah-putih menutupi lalu dilakukan salat jenazah. Almarhum Pelda Agung Sugihantono masuk Sekolah Calon Bintara (Secaba) TNI AU angkatan ke-20, meninggalkan satu istri dan 2 orang anak.

“Meski saya seperti merasa terpukul, hanya bisa pasrah dan ikhlas atas kematiannya. Itu sudah kehendak Pencipta Alam. Dia terakhir pulang sendirian medio Oktober silam, sempat janji buat selamatan almarhum pamannya akhir Desember ini,” ujar Sumiran.

Ia juga mengatakan dalam berbagai kesempatan, sang anak bicara siap meninggal sebagai prajurit TNI AU. “Tidak disangka, dia meninggal dengan jatuhnya Hercules di Papua itu,” ujarnya lagi. Begitu juga saat pemakaman, berlangsung penuh haru.

Pasukan dalam upacara berasal dari Yon 501 Bajra Yudha Madiun, Kodim 0804 Magetan, dan jajaran Lanud Iswahjudi. “Kami hanya bisa sampaikan terima kasih tiada terhingga kepada semua pihak hingga pemakaman,” ujar Sumiran lirih.

Peltu Bambang ‘Mbrebes Mili’

Pembantu Letnan Satu (Peltu) Suyata, korban Hercules lainnya, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Untung Suropati, kemarin. Peltu Suyata adalah prajurit TNI yang bertugas di Skuadron Udara 32 yang bermarkas di Pangkalan Udara (Lanud) Abdul Rachman Saleh, Kabupaten Malang.

Beberapa personel TNI, keluarga, dan kerabat turut mengantar kepergian Peltu Suyata ke peristirahatan terakhirnya. Prosesi pemakaman dilakukan dengan cara militer. Bendera setengah tiang dan tembakan salvo mengiringi jenazah menuju liang lahat. Upacara pemakaman dipimpin Kolonel Eddy Supriyono. Isak tangis pecah saat jenazah perlahan dimasukkan ke liang lahat.

Peltu Bambang, teman Suyata selama bertugas di Skuadron 32, mengatakan bahwa semasa hidup Almarhum dikenal sebagai pribadi yang baik. Bambang terus menyeka air matanya mengenang perjuangan selama 30 tahun bersama Suyata.

“Orangnya baik. Selama ini kumpul sama saya sudah hampir tiga puluh tahun di Skuadron 32. Sekitar kurang lebih dua tahun sebenarnya beliau pensiun. Saya memang lama sekali tahu karakter persis; karakternya baik, tidak macam-macam, kerjanya baik sekali,” ujar Bambang.

Dia mengenang manis dan pahit pengalaman bersama Suyata selama periode awal membangun Skuadron 32. Bambang masuk ke Skuadron 32 pada 1986, sedangkan Suyata tahun 1989. Skuadron 32 yang disebut juga Skadron Udara 32/Angkut Berat berdiri pada 1982.

“Manis maupun pahit kita alami bersama, karena kita membangun bersama Skadron 32. Kumpul terus. Pahit dan manis kita alami bersama, baik keseharian kerja di Skuadron maupun saat penerbangan,” kenang Bambang.

Banyak Dimakamkan di Jatim

Sejumlah korban pesawat Hercules yang jatuh di Papua, dimakamkan di Jawa Timur, Senin (19/12). Enam di antaranya dimakamkan di Malang, antara lain di Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati Kota Malang, Taman Makam Marga Baka Kompleks Pangkalan Udara (Lanud) Abdurrahman Saleh, serta sekitar tempat tinggal korban.

Korban yang dimakamkan di Malang antara lain Lettu Nav Arif Fajar Prayogi di Kepanjen, Kabupaten Malang;  Peltu Suyata di TMP Suropati Kota Malang; Peltu M Khusen di Marga Baka, Kompleks Lanud Abdulrachman Saleh. Berikutnya,  Peltu Lukman Hakim di Gelintung, Kota Malang serta Peltu Agung Tri dan Serma Fatoni di Marga Baka.

Empat korban lainnya dimakamkan di Nganjuk, Magetan, Jombang, dan Surabaya. Yaitu, Serda Suyanto dimakamkan di TPU Gemol, Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya. Sersan Mayor Khudori (39) dimakamkan di TPU Desa Pulogedang, Kecamatan Tembelang, Jombang.

Selanjutnya, Pelda Agung Sugihantono (39) asal Jalan Widodo, Kelurahan Mranggen, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan dimakamkan di TPU setempat. Lettu Pnb Hanggo Fitradhi dimakamkan di  TMP Candi Kecamatan Loceret, Nganjuk.

Kapten Lek Rino Pratama dimakamkan di TMP Bahagia, di Kelurahan Pabahanan, Banjarmasin. Terakhir, Kapten Pnb Jhan Hotlan Farlin Saragih dimakamkan di TPU Dusun Pagar Jandi, Desa Mariah Buttu, Kecamatan Silau Kahaean, Kabupaten Simalungun, Medan. Pemakaman Pnb Marlon A Kawer yang semula direncakan di TMP Suropati Malang dibatalkan karena keluarga hendak memakamkannya di Biak, Selasa (20/12) hari ini.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan penghormatan terakhir pada 13 korban pesawat Hercules tersebut di Skadron 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Senin (19/12). Panglima juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban.

“Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengampuni segala dosa-dosanya dan menerima amal ibadahnya serta ditempatkan di tempat yang indah di sisi Allah SWT,” kata Panglima TNI.

Panglima TNI juga menyatakan, Indonesia tak akan membeli pesawat bekas dari negara lain. Menurut Gatot, Presiden Jokowi sudah mengeluarkan instruksi tersebut sejak kecelakaan pesawat Hercules di Medan pada 30 Juni 2015 silam. “Presiden sudah menegaskan untuk selanjutnya kita tidak ada lagi beli pesawat terbang usang, semua harus baru,” katanya.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna menegaskan, untuk sementara seluruh pesawat Hercules tipe B akan di-grounded atau dilarang terbang. Pesawat akan kembali digunakan lagi jika mesin telah di-upgrade. “Setelah engine-nya kami upgrade, semua barulah dihidupkan lagi,” kata Agus Supriatna di Jakarta, Minggu (18/12). ags, mer, dit, viv

Check Also

12.000-an Visa Calon Haji Jawa Barat Belum Selesai

BANDUNG | duta.co – Sekjen Haji dan Umrah Kemenag RI Nur Syam baru saja bilang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *