Wednesday , June 28 2017
Tampak jamaah salat tarawih (20 Rakaat) di Masjid Nabawi yang membludak. (FT/GOMUSLIM)

Masjid Nabawi ‘Mengecil’, 10 Terakhir Ramadan, Jamaah Tarawih (20 Rakaat) Membludak

MADINAH | duta.co — Dua masjid besar di Arab Saudi – Makkah dan Madinah — terus kebanjiran jamaah di 10 hari terakhir Ramadan. Pada Jumat (16/6/2017), ruangan Masjid Nabawi Madinah seakan mengecil, dipadati jamaah salat tarawih dan salat malam lainnya.

10 hari terakhir Ramadan benar-benar menjadi waktu signifikan bagi jamaah untuk menghabiskannya di tempat suci. Baik penduduk setempat, pengunjung hingga jamaah umrah telah datang sejak awal untuk bisa salat Isya dan tarawih di sana.

Sebelumnya, iftar (buka puasa) juga lebih ramai dari biasanya. Pemerintah terkait telah mengantisipasi dengan menyediakan dan meningkatkan layanan masjid. Sebuah kehormatan dan kebanggaan jika bisa memberikan layanan terbaik bagi para jamaah yang datang.

Pengaturan ekstensif telah diterapkan untuk Qiyamul Lail mulai Kamis. Salat malam di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dimulai pada 12.45 malam dan berlangsung selama kurang lebih dua jam.

Salat malam di tempat lain biasanya baru mulai pada pukul satu malam dan berlangsung satu sampai dua jam. Qiyamulail dilaksanakan selama 10 hari terakhir Ramadan.

Agar berjalan dengan lancar, pengembang swasta telah dikontrak pemerintah untuk menjaga masjid di seluruh Arab. Mereka akan mengerahkan lebih banyak staf sepanjang malam untuk memastikan pasokan listrik dan air aman.

Pengalaman seseorang yang mengikuti tarawih dan salat malam di Madinah menarik diikuti. Salah seorang jamaah asal Indonesia yang baru pertama kali ikut salat tarawih merasa serba ketinggalan. Maka, pesannya ke masjid harus lebih awal biar tidak berebutan tempat.

Kalau di Indonesia jarak antara salat Maghrib dan Isya kurang lebih satu jam, di Madinah sekitar 2 jam, lumayan panjang waktu untuk berkegiatan berbuka, salat maghrib dan beribadah lainnya di masjid.

Jarum jm menunjukkan pukul 21.00 waktu Madinah saat berkumandang adzan Isya. Jarak antara adzan dan iqamah kurang lebih 20 menit sehingga ada tersedia cukup banyak waktu untuk melakukan salat sunnah Qabliyah Isya.

Tidak seperti biasanya. Salat Isya 4 rakaat berjalan cepat karena 2 surah yang dibaca adalah surah pendek-pendek. Tiba saatnya kemudian untuk salat Tarawih yang kutunggu-tunggu. Salat tarawih dikerjakan dengan sebanyak 20 rakaat dilaksanakan 2 rakaat 2 rakaat dan witir 3 rakaat (2 rakaat dan 1 rakaat), sama dengan mayoritas di Indonesia.

Tetapi, bacaan surah yang dibaca mulai awal yaitu Surah Al-Baqarah yang panjang itu. Suara imam yang begitu syahdu mengalunkan bacaan ayat-ayat suci membuat hati ini tergetar, apalagi imam sempat tergetar dan berhenti bacaannya menahan isak tangis, membuat hati jamaah menjadi ikut sesak, rasa tak kuat menahan luapan rasa yang mendesak-desak dalam dada.

Maha Suci Allah dengan segala firman-Nya. Beberapa kali imam berusaha melanjutkan bacaan tapi tak kuasa karena suara terisak tak mampu ditahannya. Beberapa detik setelah mampu mengendalikan perasaan, imampun mampu melanjutkan bacaan Surah Al-Baqarah itu. Jamaah membayangkan betapa sesak dada sang imam saat membaca Surah Al-Baqarah karena begitu menghayati makna ayat demi ayat yang dibacanya.

Yang tidak paham artinya saja tak kuasa menahan tetesan air mata dipipi, apalagi jamaah lainnya, terutama bangsa Arab yang memahami kata demi kata, mereka pun ikut terisak-isak bersama imam. Sungguh salat tarawih yang menggetarkan hati.

Jamaah sangat menikmati suara imam dalam mengalunkan bacaan surah, yang begitu indah, merdu dan menyentuh hati, sehingga tak terasa sepuluh rakaat pertama telah terlewati. Sebelum melanjutkan sepuluh rakaat berikutnya ada jeda waktu beberapa saat lebih lama dari jeda sebelumnya untuk memberi waktu bagi jamaah yang hanya mengikuti salat tarawih 11 rakaat keluar masjid.

Ya, semua masjid di Saudi ini umumnya menjalankan salat tarawih sebanyak 11 rakaat, hanya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang melakukan shalat tarawih 23 rakaat. Rasulullah saw pun dulu menjalankan salat tarawih sebanyak 11 rakaat, pada jaman salah satu sahabatnyalah salat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat dan berlaku sampai dengan saat ini, begitu uraian penjelasan ustadz pembimbing kami. Sehingga imampun menghormati jamaah yang hanya mengikuti tarawih delapan rakaat pertama saja. Indah sekali! (arm*)

Check Also

Pengusaha Mengeluh ‘Gagal Panen’ saat Lebaran

JAKARTA | duta.co – Selama Ramadhan dan Lebaran 2017 ini terkesan tak ada gejolak kenaikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *