Friday , June 23 2017

Literasi Media di Era Cyber Culture

Abdulloh Hamid MPd

Oleh: Abdulloh Hamid MPd*

Revolusi teknologi memberikan dan pertumbuhan digital media mempunyai efek kepada seluruh data kehidupan. Data Internet Worlds Stats, pengguna internet di seluruh dunia saat ini adalah 3,45 miliar jiwa dengan 1 miliar jumlah website, 128 miliar pengguna email, 2 miliar pengguna search engine google, 2,5 juta per hari posting di blog dan 359 juta tweet/hari (http://www.internetlivestats.com). Pengguna internet di Asia saat ini mencapai 1,62 miliar jiwa dengan penetrasi 40,2 persen dari total populasi sebesar 4 miliar jiwa.

Era informasi bergeser ke era big data sekarang ini ada pergeseran makna tentang fungsi teknologi. Dulu teknologi diciptakan mempunyai fungsi untuk “melayani manusia”. Algoritma pemrograman didesain sedemikian rupa (sama) untuk melayani manusia. Sekarang fungsi teknologi bergeser “memahami manusia” sehingga dibutuhkan algoritma yang berbeda untuk setiap manusia.

Pergeseran makna dari “melayani menjadi memahami” ini memberikan tantangan tersendiri untuk para programmer guna menerjemahkannya. Kalau dulu programmer cukup membuat satu model pemrograman untuk semua jenis manusia (melayani), sekarang programmer butuh banyak model untuk (melayani) manusia. Konsekunsinya adalah teknologi semakin manusiawi dan manusia bisa digantikan oleh teknologi.

Dalam hal media, setiap hari di sosial media (Facebook, Twitter, Whatsapp, dll) kita selalu dibanjiri oleh jutaan informasi yang tidak jelas sumbernya. Bahkan tak jarang informasi yang bersifat provokatif dan bisa mengakibatkan permusuhan.

Juga tersebar informasi dan gambar-gambar hoax yang pada ujungnya meminta bantuan dana. Di era seperti sekarang ini, susah sekali membedakan informasi yang mempunyai arti berita, fakta, prasangka (dzan), gosip, bercampur aduk menjadi satu.

Rasulallah saw bersabda “Salamatul Insan fi hifdzillisan” yang artinya keselamatan seseorang tergantung pada menjaga lisan. Lisan di sini berarti bukan hanya kata-kata yang keluar dari mulut kita, tetapi tweet dan status yang kita posting, informasi yang kita share, berita yang kita broadcast, dst.

Jika dulu ada pepatah “mulutmu harimaumu” sekarang bergeser menjadi “statusmu harimaumu”. Sudah banyak kasus orang yang gara-gara statusnya masuk penjara, karena melanggar UU ITE nomor 11 tahun 2008.

UU itu menyebutkan, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dana atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan; perjudian; penghinaan, dan atau pencemaran nama baik; pemerasan dan atau ancaman (Bab VII Pasal 27). Serta setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan: berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik; informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dana tau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) ancaman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dana tau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Bagaimana cara kita menyikapi dan mengelola informasi? Pertama, tabayyun (konfirmasi) cek dan ricek (Alhujurat: 6) terkadang kita mendapatkan informasi tanpa berpikir panjang kita langsung share tanpa kita cek sehingga terjadi viral.  Kedua, dzan (prasangka) kadang-kadang info yang kita terima mengandung prasangka, jika benar maka ghibah jika salah maka fitnah. Ketiga, bicara yang baik atau diam.

Sikap bertaqwa adalah bersikap hati-hati terhadap informasi, tak asal percaya dan 1000x sebelum menyebarkan. Sebelum men-share sebuah berita tanyakan pada dirimu tentang hal berikut ini: 1) apakah berita ini benar? Apakah saya sudah mengkonfirmasi kebenaran berita ini? 2) Apakah ini fakta atau prasangka? 3) Jika berita ini fakta dan benar, apa perlu disebarkan? Apakah ada orang yang disakiti dg berita ini? 4) Apakah memberikan kebaikan apakah menyulut permusuhan?

Dunia maya sekarang adalah sama dengan dunia nyata untuk itu dalam berkomunikasi via media sosial. Ada beberapa etika berinternet (netiket) yaitu: pertama, tidak menggunakan huruf besar (capital) dalam komunikasi; kedua, jangan asal copas (copi, paste) tuliskan sumber tulisan jika berasal dari tulisan orang lain.

Ketiga, sopan dan hindari kata-kata sarkasme, kasar, sara atau menyinggung perasaan orang lain; keempat, No Hoax, jangan menyebar berita dan gambar yang belum jelas kebenarannya; kelima, jika mengenai tentang hal pribadi, maka manfaatkan jaringan pribadi (Japri).

Fenomena yang terjadi sekarang adalah sedikit sekali ruang diskusi yang menjunjung tinggi nilai saling menghargai dan menghormati perbedaan. Di dinding-dinding sosial media di banjiri oleh debat oleh sesuatu hal mulai dari politik, ekonomi, sosial dll.

Orang yang tidak sama dengan pemikirannya selalu mendapatkan label “musuh”. Kita belum siap akan perbedaan. Bahkan, gara-gara pilkada DKI Jakarta hubungan pertemanan, hubungan tetangga bahkan hubungan keluarga menjadi bermasalah.

Saya teringat akan kisah-kisah orang dahulu ketika menyikapi perbedaan. Misalnya kisah KH Idam Khalid (ketua tanfidziyah PBNU) dan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) ketika berangkat haji ke Tanah Suci menggunakan kapal pada saat slat subuh. Ketika itu KH Idam Khalid menjadi imam salat subuh dan di antara makmum adalah Buya Hamka.

Pada rakaat kedua setelah ruku’ KH Idam Khalid tidak mengangkat tangannya untuk membaca doa qunut. Setelah salam Buya Hamka bertanya, “Kenapa kamu tidak membaca doa qunut?” KH Idam Khalid menjawab, “Saya tidak mau memaksa orang yang tidak membaca doa qunut untuk saya ajak berqunut,” katanya.

Dan hari berikutnya gantian Buya Hamka yang menjadi imam subuh dan di antara makmumnya adalah KH Idam Khalid. Setelah ruku’ di rakaat kedua, tiba-tiba Buya Hamka membaca doa qunut dengan fasihnya sampai selesai. Setelah salam kemudian gantian KH Idam Khalid bertanya, “Kenapa engkau membaca doa qunut sedangkan engkau berpendapat tanpa qunut di salat subuh?”

Buya Hamka menjawab, “Saya tidak akan memaksa orang yang membaca doa qunut untuk tidak berqunut.” Betapa indahnya para tokoh tersebut dalam menghargai dan menghormati perbedaan.

Minimnya ruang dialog secara akademis yang bisa dipertanggung jawabkan mengakibatkan dialog bebas tanpa etika di dinding-dinding sosial media. Minimnya literasi warga kita mengakibatkan kedangkalan pengetahuan dalam bersosial media.

Jika waktu-waktu ruang masyarakat kita masih minim dengan membaca, maka sampai kapan kita akan menghujat dan menghardik antar-sesama? Perbedaan adalah takdir dan sebagai salah satu bukti kuasa Tuhan, untuk itu mari kita rayakan perbedaan! Wallahu a’lam bishowab.

*Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya; kandidat Doktor Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang.

Check Also

Refleksi Haul Mbah Cholil, Kiai-Politisi yang Lahir dalam Suasana Sulit

Oleh:  Dr H Abu Rokhmad MAg* KH Mohammad Cholil Bisri (akrab dipanggil Mbah Cholil) lahir …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *