Thursday , June 29 2017
Suasana diskusi Forum Group Discussion (FGD) Rekonstruksi Sistem Pendidikan Indonesia yang digelar Ikatan Alumni (IKA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam rangka Dies Natalis ke-52 di Gedung Gema UNESA, Rabu (21/12). (duta.co/Sovie)

IKA UNESA Kritisi Pendidikan Indonesia

Suasana diskusi Forum Group Discussion (FGD) Rekonstruksi Sistem Pendidikan Indonesia yang digelar Ikatan Alumni (IKA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam rangka Dies Natalis ke-52 di Gedung Gema UNESA, Rabu (21/12). (duta.co/Sovie)

SURABAYA | duta.co – Sistem pendidikan kita berada di persimpangan jalan, belum mampu menjadikan anak didik mandiri. Itulah sebabnya, Rabu (21/12/16), Ikatan Alumni (IKA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Forum Group Discussion (FGD) Rekonstruksi Sistem Pendidikan Indonesia.

Bertempat di Gedung Gema UNESA, FGD yang melibatkan pakar pendidikan, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru, komite sekolah, ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), pemerhati serta praktisi pendidikan dan dewan pendidikan se-Jatim, ini menyorot empat hal, penguatan pendidikan karakter, full day school, ujian sekolah berorientasi nasional dan Revitalisasi SMK. Kegiatan ini sekaligus untuk memperingati Dies Natalis ke-52 UNESA.

“Saya berharap, melalui acara ini bisa lahir gagasan besar dalam pendidikan untuk pembangunan bangsa Indonesia,” demikian disampakan Prof Dr Warsono MS, Rektor UNESA kepada Duta.

Menurut Warsono, pendidikan kita belum mampu membuat anak didik mandiri. Padahal, mestinya, itulah yang diutamakan. Kalau pendidikan tidak untuk anak didik, lalu untuk siapa?

“Yang penting adalah menjadikan anak didik mandiri. Kalau tidak,  lalu pendidikan untuk siapa? Pendidikan adalah untuk anak didik itu sendiri, masyarakat dan negara. Ini tidak akan terlaksana kalau peserta didik tidak mampu berdiri sendiri,” terangnya.

Menurutnya ilmu yang dipelajari dengan kenyataan lapangan bisa saja tidak sama. Tetapi tidak semuanya berubah, karakter dan cara berpikir adalah bagian yang tetap. Warsono juga menegaskan bahwa dirinya setuju dengan kurikulum 2013. Sebab kurikulum itu mengajarkan berpikir saintifik. Mulai dari mengidentifikasi pertanyaan, mencari sumber data, menjawab pertanyaan dan menganalisis data.

Sementara, pengarah FGD, Heru Subagyo mengatakan, selama ini bangsa Indonesia lebih mengagungkan materi. Nilai kehidupan tidak dipedulikan lagi. Oleh sebab itu sangat diperlukan penguatan pendidikan karakter.

Masih menurut Heru — yang dikenal sebagai pengamat pendidikan — kita sekarang dihadapkan dengan wacana full day school. Padahal kondisi ekonomi masyarakat pendapatan per kapitanya rendah. Full day school membutuhkan biaya yang tinggi. Ini tidak cocok dengan kenyataan.

Heru kemudian membeber fakta yang diamati. Bahwa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) misalnya, banyak permasalahan setelah diimplementasikannya Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Di antaranya adalah dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Akhirnya dunia industri sendiri kurang berminat menerima tenaga kerja lulusan SMK.

Maka, saran Heru, revitalisasi pendidikan SMK harus dilakukan. Usaha-usaha untuk memajukan pendidikan SMK, orientasinya harus kebutuhan bukan kepentingan semata.

“Selain itu perlu diingat kembali bahwa ada dua mazhab dalam pendidikan di dunia. Pertama orang sekolah untuk bekerja, kedua orang sekolah untuk menjadi pintar,” terangnya.

FGD IKA UNESA ini, diikuti 52 peserta, dibagi tujuh kelompok diskusi. “Dari tim perumus nanti akan dilakukan pengkajian ulang. Selanjutnya akan diterbitkan rekomendasi yang ditujukan kepada semua pihak, utamanya yang hadir di sini,” pungkas Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd, ketua pelaksana. (naf/sov)

Check Also

Mendikbud: Full Day School Tak Dibatalkan tapi Diperkuat

JAKARTA | duta.co – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy membantah program sekolah 8 jam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *